Kamis, 23 April 2015

11 Jalan Ksatria Bangsa Jepang

11 jalan ksatria bangsa Jepang

1. Gi atau the truth: kebenaran
Kebenaran adalah titik kulminasi pencarian manusia yang tertinggi dalam hidupnya. Karena nilai kebenaran yang tertinggi hanya ada satudan satu-satunya, yaitu pada Tuhan pencipta semesta alam. Kita harus terus mendapatkan update dan peringatan dari para ahli “kebenaran” untuk mempertegas dan menjaga jalan yang akan di tempuhnya agar tidak melenceng dari arti kebenaran itu sendiri.

2. Kaizen
Kaizen merupakan istilah bahasa jepang terhadap continuous improvement. Kai berarti perubahan, zen berarti baik. Jadi kaizen berarti
melakukan perubahan agar lebih baik secara terus menerus.

3. Bushido
Bushido adalah kode atau prinsip yang dianut oleh para samurai Jepang. Prinsip bushido menekankan pada kehormatan, keberanian, dan kesetian kepada atasan melebihi apapun. Pejuang samurai yang ideal
adalah mereka yang tidak mempunyai rasa takut terhadap kematian tetapi mereka takut jika
tugas yang mereka emban tidak berhasil.

4. Makoto
Makoto berarti bersungguh-sungguh dengan selalu berkata dan bertindak jujur dengan tidak berlaku curang baik kepada kawan maupun lawan. Pokoknya adalah kejujuran dan ketulusan

5. Genchi Genbutsu
Definisi harfiah Genchi Genbutsu dari bahasa Jepang adalah ‘go and see the problem’. Genchi genbutsu bukan sekadar teori, melainkan lebih
menekankan pada praktek dimana kita harus langsung mendatangi masalah untuk mengetahui masalah tersebut.

6. Hansei
Hansei berarti perenungan. Dalam manajemen bisnis, hansei berarti peninjauan ulang secara cermat yang dilakukan setelah tindakan diambil.
Tidak perduli hasil akhirnya sukses atau gagal, mereka tetap harus meninjau hasilnya. Hansei berlawanan dengan pola pikir “kalau tidak rusak mengapa harus diperbaiki”. Kebanyakan kita masih menunggu rusak baru diperbaiki.

7. Meiyo
Nah, inilah yang sering membuat banyak orang kebingungan dengan seseorang yang sering melakukan sikap “salute” atau menghormat
kepada siapapun. Dari presiden, lawan politik, wartawan, kadernya bahkan ke musuhnya. Sikap menghormati merupakan gambaran dan nilai dasar kehormatan bagi para “ksatria”, baik simbolik maupun bahasa tubuh lain seperti membungkuk ala jepang (rei) atau mengangguk dan tersenyum ala Jawa, dengan kata lain seorang ksatria hanya dapat dikatakan memiliki sebuah kehormatan dalam dirinya, bila ia tahu bagaimana cara menghormati orang lain terlebih
dahulu.

8. Chugi - Loyalty atau Kesetiaan/Pengabdian Sulit untuk membantah karakter ini. Begitu jelas ketika kita mengatakan “Saya setia pada
Pancasila, UUD 1945 dan NKRI″ atau “isyhadu bi-anna muslimin” maka konsekuwensinya adalah perjuangan dan pengabdian. Bukan hanya
harta atau material saja, namun bisa juga hingga nyawa. Sudah jelas seorang ksatria butuh tempat mengabdi. Dimana bumi dipijak
disitu langit dijunjung.

9. Rei - Courtesy atau Sopan Santun
Ada yang pernah ngobrol langsung dengan seseorang nggak? Coba perhatikan cara dia mendengarkan kita yang sedang berbicara. Dia
akan diam, khitmad, sorot mata fokus dan menunggu kita selesai bicara baru beliau gantian berbicara. Hanya sayangnya, entah budaya baru macam apa yang tengah terjadi pada rakyat Indonesia kini. Menyela pembicaraaan atau ngobrol sendiri saat orang lain sedang berbicara
menjadi hal biasa. Perdebatan dan cek-cok seperti menjadi gaya baru berkomunikasi anak bangsa era kini. Jadi jangan heran jika ada orang yang kurang respek dengan orang/profesi yang bicaranya suka memotong pembicaraan atau bicara sendiri saat yang lain berbicara.
Kalau lagi personal dan santai, ledek-ledekan sih biasa, gak papa lah.

10. Jin - knowledge and wisdom atau Pengetahuan dan Kebijaksanaan
Cek ruang tamunya yang merangkap
perpustakaan. Bagi yang kutu buku bisa “gila” dan histeris melihat koleksi bukunya yang luar
biasa. Penataannya juga asyik, ada yang dalam lemari dan ada yang ditata di meja untuk mempermudah pengambilan. Tak perlu dijelaskan bagaimana banyaknya wacana
pengetahuan yang sudah diketahui atau dipelajarinya.

11. Yuki - Courage atau Keberanian
Untuk hal terakhir ini, tak perlu lah membahas yang tinggi-tinggi seperti keberaniannya menantang orang untuk berkelahi. Berani karena
benar, dan berani jujur ketika salah. Berani bukanlah tawuran, bersatunya orang-orang ciut
untuk membentuk sebuah keberanian dengan main keroyok. Nah, dari pilar pilar budaya sahabat kita dengan
jalan ksatria inilah yang sepertinya harus ditularkan karakternya kepada diri kita dan anak didik kita. Meskipun kita punya budaya yang
baik, namun tidak serta merta kita menutup diri terhadap hal-hal positif dari semangat seperti ini
untuk membangun kembali Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar