jogja.tribunnews.com/2015/04/29/sungguh-tragis-mahasiswi-ditemukan-tewas-membusuk-usai-melahirkan
Hari ini rabu 29 April 2015 sebuah universitas swasta di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, digemparkan dengan sebuah kabar bahwa telah ditemukannya jasad seorang Mahasiswi berinisial SA , diduga mahasiswi program studi akuntansi angkatan 2013 ini meninggal karena kehabisan darah yang harus diderita setelah melahirkan putranya, posisi korban ditemukan tergeletak di kamar kostnya yang terletak bertepatan dibelakang kampus mahasiswi tersebut.
Belum ditemukan apa penyebab dari mahasiswi tersebut melakukan proses melahirkan di kamar kost sendiri tanpa pengawalan dan bantuan medis, namun sebuah perkiraan yang dapat kita ambil dari kehidupan bermasyarakat kita saat ini adalah terjadinya sikap penghakiman dari masyarakat yang akan menyebutkan kondisi korban adalah "Salah". Sehingga dari asumsi ini korban memilih untuk melindungi dirinya dari rasa malu yang akan diterimanya setelah mendapat cap dari lingkungan sekitarnya.
Korban ditemukan di dalam kamar kostnya dengan kondisi berlumuran darah akibat pendarahan akut, dengan putranya yang juga tergeletak di kakinya. Sekali lagi disebutkan bahwa sang ibu dan sang anak tersebut adalah korban. Korban dari lingkungan yang sudah mendarah daging dan membudayanya, hakim menghakimi.
Terlepas dari apa yang telah dia lakukan sehingga dia dalam kondisi tersebut, korban nyawa telah terjadi. Nasib keduanya kini harus berakhir. Karena bebannya untuk menanggung rasa malu lebih besar , menyebabkan dia menempuh jalan tersebut dengan menerima segala resikonya.
Ketika saat ini dunia terus menggemakan tentang nilai nilai kemanusiaan, namun sangat disayangkan jika hal tersebut hanya menjadi sebuah pengertian tertulis. Sikap dari lingkungan bermasyarakat saat ini kurang mencerminkan sikap dari kemanusiaan itu sendiri. Secara hakiki kemanusiaan hanyalah sebagai sebuah kata jika tanpa dimaknai dengan lebih dalam.
Lingkungan akan menghakimi serampangan karena mahasiswi tersebut telah melanggar apa yang disebut dengan norma, apa yang disebut dengan agama, dan lain lainnya. Tapi bukanlah hal itu yang dibutuhkan dirinya saat ini, pendampingan yang menguatkan mentalnya dan terus memberikan support kepada dia lah yang dia butuhkan.
Kata salah yang diberikan lingkungan kepada dirinya hanyalah sebuah penghakiman yang buta, oke sebut saja dia salah ketika lingkungan menginginkan kata itu yang terucap. Sekarang ketika kondisi tersebut telah terjadi seperti itu sekarang siapa yang salah?
Kata kata benar dan salah hanya akan menjadi paradoks yang terus berputar tanpa henti seperti lingkaran setan yang tiada berputus.
Kemanusiaan adalah semangat dalam sebuah pemaknaan. Definisi tidak akan berarti tanpa sebuah aplikasi.
Setelah salah apa yang mau dilakukan? Dan jika benar apa yang mau dilakukan? Cinta dan kasih adalah sebuah solusi. Tanpa menghakimi satu sama lain kemanusiaan akan terwujud.
Selamat jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar