Dalam pitutur Adiluhur masyarakat Jawa dikenal kalimat NUTUPI BABAHAN HAWA SANGA.
Maksudnya kita harus bisa mengendalikan ke 9 lubang yang ada di dalam raga kita. Lubang itu antara lain :
1. Anus.
2. Mulut.
3. Mata kiri.
4. Mata kanan.
5. Telinga kiri.
6. Telinga kanan.
7. Hidung lubang kiri.
8. Hidung lubang kanan
9. Kemaluan/Alat Kelamin.
Kesembilan lubang ini dimaknai sebagai simbol kenikmatan ragawi atau hawa nafsu. Lubang-lubang inilah yang membuat orang jatuh ke dalam jurang kenistaan.
Kalau tidak waspada dan tidak bisa mengendalikan kesembilan lubang itu, orang bisa terjerumus ke dalam lubang yang lebih mengerikan lagi!
Sebaliknya, kalau orang dengan bijak menggunakan kesembilan lubang itu
sebagaimana mestinya, maka ia akan tampil sebagai orang yang unggul. Orang yang tidak diperbudak oleh hawa nafsu.
Ungkapan NUTUPI BABAHAN HAWA SANGA secara harfiah berarti MENUTUPI KESEMBILAN LUBANG TUBUH. Bermakna bisa atau mampu berkontemplasi, bersamadi atau bermenung dengan sungguh-sungguh untuk mampu menguasai segala bentuk nafsu dalam dirinya. Inilah alam batin yang tidak mudah untuk kita masuki.
Kenyataannya mengendalikan nafsu tidak
cukup hanya berpuasa dengan cara bersamadi atau BERTAPA misalnya, itu semua adalah usaha sia-sia dan palsu belaka, karena tidak mungkin akan berhasil selama di dalam dirinya masih berkecamuk nafsu itu sendiri.
Penekanan hanyalah akan menghentikan
timbulnya nafsu itu sementara waktu saja, akan tetapi bukanlah berarti bahwa nafsu itu sudah mati. Sewaktu-waktu, jika
penekanannya berkurang kuatnya, tentu akan meledaklah nafsu yang ditahan-tahan. seperti api dalam sekam,sewaktu-waktu dapat membakar.
Karena yang menekan nafsu ini pun sesungguhnya adalah nafsu sendiri dalam bentuk lain atau nama lain yang kita berikan kepadanya. Keinginan tidak mungkin
dilenyapkan dengan lain keinginan, karena akan menjadi lingkaran setan yang tiada berkeputusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar