Rabu, 27 Mei 2015

CINTA DAN KEBERANIAN




banyak orang bilang, kalo jadi manusia itu harus punya keberanian. yap, keberanian adalah hal yang sangat fundamental bagi semua manusia. banyak manusia yang kalah dengan ketakutannya. mereka takut, padahal belum memulai, terlalu banyak berpikir sehingga pikirannyalah yang membatasi dirinya untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. mereka takut keluar dari zona nyamannya, mereka takut terjadi sesuatu hal yang tidak ingin mereka rasakan. padahal ya hidup itu harus banyak rasa! ada sebuah cerita mengenai Sang Buddha, ia harus merasakan 360 rasa dalam hidupnya. berarti dalam setiap harinya, Sang Buddha harus merasakan satu rasa. rasa apakah itu? tergantung Sang Buddha itu sendiri, ia ingin merasakan rasa apa. bahagia? sedih? atau mungkin yang lainnya.
lain dari itu, manusia sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk merasakan semua rasa yang ada di dunia ini. jadiiiiii, untuk apa takut? ketika kita berani untuk merasakan berbagai macam rasa itu, maka semakin indahlah hidup kita, semakin bijaksanalah hidup kita, dan semakin tuluslah kita ketika mencintai. oiya, kenapa postingan ini diberi judul "Cinta dan Keberanian?" karena dengan Cinta kita kepada sang Maha Pencipta, sang Maha Sejati, kita akan berani menghadapi semua rasa tersebut. dengan kita berani, maka semakin indah hidup kita.
tak ada sesuatu yang menakutkan, kecuali Tuhanmu sendiri, kita hidup hanya diwajibkan takut kepada sang Maha Pencipta, tetapi dengan kita takut kepada-Nya, kita akan mencintainya.
dan ada satu pesan lagi yang ingin saya sampaikan, "jangan mencintai apapun melebihi cintamu kepada sang Maha Pencipta" kenapa? karena Tuhan Maha Pencemburu! setuju? dibalik setuju atau tidak, ya itu pendapat masing - masing. kenapa Tuhan Maha Pencemburu? ya suka - suka dia laah, dia yang menciptakan alam semesta dan seisinya, jadi ya itu hak mutlak-Nya untuk memiliki sifat apapun. mau melawan sang Maha Pencipta? coba saja lawan jika mampu. haha.
oke, mungkin ini saja yang bisa saya tulis kali ini, tiada kata lain yang bisa saya ungkapkan, kecuali ucapan terimakasih kepada Tuhan yang mengizinkan saya untuk hidup sampai saat ini, sampai saya bisa memposting tulisan ini.
baik, sebelum selesai, mari kita ucapkan Sodaqaullaaahhuladzim.
salam.

Tarno Soekarno.  

Rabu, 20 Mei 2015

Agama Cinta



“Letak Agama Sebenarnya,Terletak Pada Cinta”

                Aku Islam, Aku Nasrani, Aku Budhhis, Aku Hindu, Aku Zoroaster, Aku Atheis, dan beribu ribu pengakuan diri terhadap agama ataupun aliran apa yang diri ini anut, melebihkan akan keunggulan apa yang dimiliki dan membenci yang berbeda dengan diri menjadi sebuah kewajaran. Terkadang rela untuk menyakiti sesama untuk membela apa yang dia miliki, atas nama Tuhan A, Tuhan B, Tuhan C, demi membela Tuhan Tuhan itu tak jarang yang saling benci membenci, gunjing menggunjing dan bunuh membunuh.  Kebencian tumbuh subur antara umat A, umat B dan Umat C mereka tidak dapat membuka diri dengan masing-masing yang berbeda dengannya, Agama hanya menjadi dongeng dan kisah yang membawa umat manusia kepada pencerahan dan pemahaman menyeluruh, masing masing hanya mementingkan golongan dan alirannya, menjadi pertanyaan besar bukankah semua Agama itu diizinkan Tuhan? Bukankah semuanya hadir untuk Tuhan? Bukankah semuanya menggiring untuk membawa ke pencerahan. Apakah saling membenci itu adalah sebuah pencerahan? Tuhan menciptakan ragam anak sungai agar semuanya menuju kepada lautan dan samudera yang sama, walaupun sungai A berkelok-kelok, Walaupun sungai B kecil bentuknya, dan sungai C lurus-lurus saja semuanya akan sama, akan tetap bermuara pada lautan yang sama, kesampingkan egoisme diri dan golongan, kita semua sama Manusia.

(Bagong Nusantara)

Raja dan Bidak Catur




“Setelah Pertandingan Selesai Sang Raja dan Sang Bidak Akan Pergi Ke Kotak Yang Sama”
Permainan Catur

                Kotak berwarna hitam dan putih dengan dimensi 8 kotak dikali dengan 8 kotak yang memiliki 32 bidak berlawanan berwarna hitam dan putih, sebuah permainan yang berlatar belakang kehidupan kerajaan disana ada bidak, ada benteng, ada menteri, ada kuda, ada perdana menteri da nada sang raja. Setiap individunya melangkah menyerang dan bertahan yang menyerang melangkah dengan tujuan raja sang musuh untuk dimangsa dan yang bertahan akan melindungi raja di pihaknya dengan mati-matian perngorbanan dilakukan demi strategi dan taktik perang menuju kemenangan berhasil dijalankan, pihak musuh ada yang menjadi korban dan pihak sendiri ada yang harus mati pula. Ada yang unik setelah permainan usai, ketika sang raja dan sang bawahan harus berkumpul bersama dalam satu box setelah selesai dimainkan , makna kehidupan yang dapat kita petik adalah mau setinggi apapun jabatan dan selihai apapun diri kita dalam permainan di dunia ini setelah semuanya usai siapapun anda dan setinggi atau serendah apapun anda akan berakhir pada alam yang sama, dan anda akan dihakimi tanpa memandang setinggi apapun harta dan jabatan anda didunia, yang harus anda bayar maka akan anda bayar, dan yang harus anda dapatkan pun maka kan anda dapatkan, dalam hidup setelah mati.

“Setiap orang itu Jenius”




"Tetapi Jika Anda Menghakimi Ikan Karena Kemampuannya Untuk Memanjat Pohon, itu Hanya Akan Menjadi Kebodohan Yang Pernah Dilakukan Seumur Hidup”
Albert Einstein

                Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sama seperti ikan yang memiliki kelebihan untuk berenang dan memiliki kelemahan untuk memanjat pohon maka dia tidak bisa dibandingkan dengan cicak yang pandai dalam hal memanjat namun memiliki kekurangan dalam berenang di air, itu menggambarkan bahwa setiap diri dan individu memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan membandingkan dan hanya berfokus pada satu bidang saja tidak akan membuat penilaian menjadi obyektif dan hakiki. Namun sifat dasar manusia adalah selalu melihat segala sesuatunya dari kekurangan, manusia peka dalam melihat kutu yang diseberang lautan daripada gajah yang dipelupuk mata. Segunung kebaikan tidak akan berarti untuk sebatang keburukan, manusia telah dibentuk untuk menghakimi yang berbeda, berbeda menjadi sebuah kesalahan sangat disayangkan, padahal hakikatnya tidak ada manusia yang berwarna putih seutuhnya dan berwarna hitam seutuhnya, selalu ada keseimbangan didalam sebuah kehidupan. Selalu ada dualisme yang berdampingan satu sama lain. Ketika seimbang maka kehidupan terwujud, ketika tidak seimbang maka tidak ada kehidupan.

Budak Uang



“Anda Adalah Budak dan Ini Adalah Pimpinan Anda”


                Ketika segala sesuatunya hanya diukur oleh materi, ketika ukuran kebahagiaan hanya diukur dari seberapa banyak uang yang anda miliki. Ketika ukuran kesuksesan hanya diukur dari seberapa tinggi jabatan yang anda miliki. Konsep “Autopilot” terjadi pada diri anda ketika hal-hal tersebut menjadi sebuah komposisi dari dalam diri anda untuk menjalani hidup, sungguh sangat disayangkan jika kebahagiaan, Kesuksesan, dan Cinta yang anda miliki harus dinilai dengan sesuatu yang masih dapat dinilai dengan sebuah ukuran buatan manusia. Dimanakah letak kebahagiaan yang sejati? Kebahagiaan yang sejati terletak di dalam diri setiap individu semuanya telah diliputi oleh benih pokok kebahagiaan semasa menjalani hidupnya, kebahagiaan telah hadir di awal di dalam diri sedang tertidur, banyaknya paradigm yang membentuk bahwa untuk bahagia seseorang harus ini dan harus itu. Tanpa disadari kita telah bahagia ketika menemukan bahwa kebahagiaan terjadi tanpa serumit itu.

Kesuksesan yang hanya dinilai hanya dari seberapa tinggi jabatan pun adalah hal yang semu, kita dapat membandingkan kesuksesan jabatan seorang anggota dewan DPR dalam tidurnya. Dia tidak akan pernah sesukses tukang becak dalam hal tidur, yang hidup pas-pasan. 

Ketika semua itu terjadi karena suatu hal yang relatif yang bisa anda lakukan adalah memilih, memilih kebahagiaan dan kesuksesan yang sangat dekat atau yang jauh.

Mata dibalas Mata



“Mata Dibalas Mata Hanya Akan Membuat Seluruh Dunia Menjadi Buta”


Semuanya berawal dari rasa tidak terima dalam diri, rasa tidak dihargai ketika menderita sebuah kekalahan, maka pembalasan dendamlah menjadi solusi otak yang sedang memuai, meregang karena kepanasan. Sebuah analogi yang tepat ketika mata anda hilang karena telah dibutakan musuh anda dan anda mendapat kesempatan untuk membalas dengan cara yang sama maka hanya akan menjadi semuanya orang yang buta, yang tidak memiliki mata. Sudah seharusnya kita menerima dengan lapang apa yang telah diderita oleh diri kita, lantas bagaimana dengan harga diri? Bagaimana dengan martabat? Ketika kamu masih bisa untuk hidup selagi kamu buta maka bersyukurlah. Jika menurut anda keutamaan hanya terletak pada kehidupan maka syukurilah ketika anda masih sanggup untuk bernapas, keluarbiasaan yang diberikan Tuhan kepada kita, anugerah yang telah kita pilih adalah kehidupan ini. dengan segala konsekuensi dan resiko yang harus dijalani. Kita telah memilih, tinggal bagaimana diri kita untuk dapat bertanggungjawab atas pilihan yang kita buat. Apa lah arti yang anda sebut dengan harga diri dan martabat? Sesuatu yang semu yang dapat ditarik kemabli oleh sang Maha Memiliki sewaktu-waktu. Tugas kita hanyalah dititipkan dan harus rela jika Sang Pemilik mengambil sewaktu-waktu.