Rabu, 20 Mei 2015

Miskin Dilarang Kuliah



“Orang Miskin Dilarang Kuliah, Yang Kaya Kuliah Yang Miskin Nonton Saja”




                Pendidikan tidak lagi menjadi hak bagi semua individu, pendidikan hanyalah komoditas, siapa yang bisa membeli dialah yang dapat. Siapa yang sanggup membayar dialah yang bisa menikmati. Pendidikan tidak lagi menjadi hak asasi manusia. Terlebih perguruan tinggi hanya sekitar 30 Persen pelajar Sekolah Menengah Atas di Indonesia yang bisa melanjutkan ke Jenjang Perguruan Tinggi. Begitu mahalnya harga pendidikan di Indonesia sehingga kualitas menjadi tidak merata kelas Internasional, Kelas Nasional hanya menjadi komoditas bagi yang mampu membayar. Yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki kemampuan hanya akan menonton dengan baik saja, sebuah ironi, ketika yang lainnya di belahan bumi yang lain mampu mewujudkan pendidikan grati bagi rakyatnya. Itu baru di hal pemerataan pendidikan belum lagi berbicara akan kualitas pendidikan, kampus tak ayalnya menjadi sebuah pabrik robot yang menciptakan generasi-generasi patuh, penakut yang tidak berkepribadian. Bahwa peserta didik harus tunduk pada peraturan kampus dan nilai diri harus ditukar dengan hal-hal yang berwujud materi saja. Tidak ada lagi nilai-nilai luhur yang dipelajari di kampus yang mayoritas mengedepankan pendidikan parsial. Selamat datang robot yang dipesan programmer.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar