“Orang
Miskin Dilarang Kuliah, Yang Kaya Kuliah Yang Miskin Nonton Saja”

Pendidikan tidak lagi menjadi
hak bagi semua individu, pendidikan hanyalah komoditas, siapa yang bisa membeli
dialah yang dapat. Siapa yang sanggup membayar dialah yang bisa menikmati.
Pendidikan tidak lagi menjadi hak asasi manusia. Terlebih perguruan tinggi
hanya sekitar 30 Persen pelajar Sekolah Menengah Atas di Indonesia yang bisa
melanjutkan ke Jenjang Perguruan Tinggi. Begitu mahalnya harga pendidikan di
Indonesia sehingga kualitas menjadi tidak merata kelas Internasional, Kelas Nasional
hanya menjadi komoditas bagi yang mampu membayar. Yang memiliki kemauan tetapi
tidak memiliki kemampuan hanya akan menonton dengan baik saja, sebuah ironi,
ketika yang lainnya di belahan bumi yang lain mampu mewujudkan pendidikan grati
bagi rakyatnya. Itu baru di hal pemerataan pendidikan belum lagi berbicara akan
kualitas pendidikan, kampus tak ayalnya menjadi sebuah pabrik robot yang
menciptakan generasi-generasi patuh, penakut yang tidak berkepribadian. Bahwa
peserta didik harus tunduk pada peraturan kampus dan nilai diri harus ditukar
dengan hal-hal yang berwujud materi saja. Tidak ada lagi nilai-nilai luhur yang
dipelajari di kampus yang mayoritas mengedepankan pendidikan parsial. Selamat
datang robot yang dipesan programmer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar