“Aku
Cuma Butuh Kepalamu, Tak Butuh Isinya”
Ya, inilah sebuah sistem yang
sangat agung yang sangat populer, sistem yang dirasa sangat tepat oleh
Negara-negara hampir diseluruh belahan dunia. Sebuah ideologi yang akan
memakmurkan sang pemegang saham yang dapat memainkan komoditasnya dengan riang
gembira, menari-nari saat jutaan kepala masuk kedalam bilik suara dengan dalih
suara rakyat adalah suara Tuhan, namun rakyatnya adalah rakyat yang telah
dibentuk, dibentuk lewat dogma, lewat indoktrinasi media, lewat paradigma
massif, lewat pendidikan, dan lewat semua saluran-saluran yang akan menghalangi
diri mencapai kebebasan individu yang hakiki, yang akan menghambat seseorang
untuk mencapai pencerahannya dan pemahaman yang lebih tinggi. Selamat datang
kebodohan dan ketidaktahuan, kita semua adalah properti pemilik Negara ini,
yang katanya pemilik Negara adalah rakyat, apakah benar 100 persen. Nyatanya
tidak kita adalah milik mafia kelas kakap, seseorang dibalik layar yang sedang
berinvestasi kepada negaramu. Layaknya seorang gepetto yang sedang bermain
boneka pinokio. Seperti itulah pemimpin-pemimpin saat ini. tidak tahu apa apa
karena berasal dari rakyat yang sama. Rakyat yang dibentuk seperti tanah liat
yang lentur semudah itu untuk dijadikan binatang, rumah-rumahan, mobil-mobilan
bahkan apapun yang diinginkan orang yang memainkannya. Sadar itu lebih baik.
Matikan saluran-saluran sampah yang
mengisi hari-hari kita.
(Bagong Nusantara)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar